Sunday, 14 November 2021

Reflektif Kritis Pemikiran tentang Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Reflektif Kritis Pemikiran tentang Pendidikan Ki Hajar Dewantara - Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, setelah Anda menonton dan menyimak video penjelasan Filosofis Pendidikan KHD serta membaca tulisan KHD, Anda diminta untuk mem berikan tanggapan refleksi kritis dalam bentuk rekaman audio/video pendek dengan menggunakan kamera telepon pintar Anda dengan durasi 2 menit hingga 3 menit (maksimum 4 menit) yang memberikan ilustrasi diri Anda sebagai “Pembelajar Merdeka” yang dapat menginternalisasi semboyan  “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Tanggapan reflektif-kritis Anda sejatinya memberikan perspektif yang menguatkan angan-angan Anda sebagai seorang pendidik dan pembelajar. Berikut ini panduan pertanyaan yang dapat digunakan dalam membuat rekaman refleksi kritis. 

  1. Apakah intisari pemikiran KH Dewantara tentang pendidikan?  
  2. Ceritakan proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KH Dewantara?
  3. Apa yang akan lakukan agar proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD dapat terwujud?
  4. Dari konsep pemikiran KHD tersebut, mana yang sudah Anda terapkan?

Berikut Refleksi Kritis dari saya, bisa anda lihat pada video berikut

Saturday, 13 November 2021

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-4

 JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-4 PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK

Model 7: Segitiga Refleksi


Setelah pembelajaran hari ini saya memahami bahwa guru penggerak memiliki peran dan nilai. Peran guru penggerak diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, menggerakkan komunitas, berkolaborasi dengan guru lain dan mewujudkan kepemimpinan murid. Sedang nilai seorang guru penggerak adalah mendiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid

Setelah pembelajaran hari ini saya akhirnya mampu mengenali nilai dan peran saya sebagai guru penggerak. Saya seorang guru penggerak yang selalu bersemangat untuk belajar secara mandiri, berkolaborasi dengan guru lain, bisa menjadi coach bagi guru lain. Saya juga seorang guru penggerak yang inovatif dan berpihak pada murid

Perasaan saya setelah melakukan pembelajaran hari ini adalah saya sangat senang karena dengan mengimplementasikan nilai dan peran saya sebagai guru penggerak sehingga dapat menggerakkan komunitas pembelajaran. Inovasi yang saya lakukan dapat mendorong saya untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid

Setelah melakukan pembelajaran hari ini, target saya selanjutnya adalah melakukan aksi nyata di sekolah sebagai perwujudan dari peran dan nilai saya sebagai guru penggerak



JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-3

 JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-4 PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK - 

Jurnal refleksi minggu ke-3 menggunakan model 7 yaitu Segitiga Refleksi. Berikut Jurnalnya


Setelah pembelajaran hari ini saya ankhirnya mampu menggali peran saya sebagai guru penggerak. Saya juga mampu melihat nilai diri saya yang bisa saya gunakan sebagai modal menjadi guru penggerak

Setelah pembelajaran hari ini saya memahami bahwa guru penggerak memiliki peran dan nilai yang harus dilaksanakan dalam mewujudkan profil pelajar pancasila

Perasaan saya setelah melakukan pmbelajaran hari ini adalah saya sangat senang dengan memahami apa yang telah saya lakukan selama ini ternyata bermanfaat bagi orang lain, dan sesuai dengan peran dan nilai guru penggerak

Setelah melakukan pembelajaran hari ini, target saya selanjutnya adalah berdiskusi dalam kelompok dengan teman-teman cgp lainnya. Berkonsultasi dengan PP untuk pelaksanaan aksi nyata


DEMONTRASI KONTEKSTUAL PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK

 

DEMONTRASI KONTEKSTUAL PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK- 
Sebagaimana judul unitnya, maka setelah Anda berproses merefleksikan diri Anda pada bagian pembelajaran sebelumnya, kini Anda diminta untuk berbagi dengan menyajikannya dalam bentuk sebuah karya. 

Bayangkan diri Anda, setelah mengikuti proses pendidikan Guru Penggerak selama 9 bulan. Pada saat tersebut, Anda tentunya sudah selesai mengikuti program pendidikan ini. Mari kita ciptakan visi kita di masa depan. Anda akan diminta untuk membuat sebuah karya 2 dimensi diri Anda sebagai Guru Penggerak setelah selesai mengikuti pendidikan Guru Penggerak. Pertanyaan yang bisa membantu Anda dalam menyusun ilustrasi ini adalah: 

  1. Guru Penggerak seperti apakah saya?
  2. Nilai-nilai apa yang saya kuasai di masa depan?
  3. Mengapa nilai-nilai tersebut penting untuk saya?

Karya dapat disajikan dalam bentuk gambar ilustrasi tangan/digital. Poin penting dalam penugasan ini adalah kejelasan profil diri Anda, sehingga tidak masalah jika ilustrasi Anda tidak sempurna. Anda dapat menambahkan teks untuk memperjelas ilustrasi tersebut. Hasil Ilustrasi ini dapat dikumpulkan sesuai tenggat waktu 2 hari setelah instruksi penugasan Demonstrasi Kontekstual. 




REFLEKSI TERBIMBING PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK




REFLEKSI TERBIMBING PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK - Dalam kegiatan ini Calon Guru Penggerak merefleksikan diri atas peran dan nilai guru penggerak dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:

1. Apa saja nilai diri saya? (yang terdapat pada bagian mulai dari diri)

Saya tidak suka pembulyan, jadi nilai yang ada dalam diri saya adalah, keramahan, perhatian pada murid, sopan dalam bertindak, santun dalam berkata, berbusana, dan selalu menghargai pendapat murid

2. Apa yang saya rasakan setelah mengetahui nilai dari Guru Penggerak? Jelaskan!

Saya merasa nilai diri yang saya miliki belum cukup mampu sebagai modal menjadi guru penggerak. Saya kurang inovatif kurang kreatif. 

3. Apa saja nilai diri Guru Penggerak yang sudah saya miliki sekarang? 

Nilai guru penggerak yang sudah saya milik setelah mempelajari modul 1.2 adalah mandiri,  kolaboratif, reflektif, inovatif, dan berpihak pada murid. 

4. Diantara nilai-nilai yang sudah saya pelajari, nilai apa yang saya rasa perlu saya kuatkan? jelaskan!

Diantara lima nilai guru penggerak saya masih perlu menguatkan nilai inovatif. Saya sangat menyadari jika jiwa inovasi saya sangat kurang. Saya perlu belajar banyak dari orang lain. 

5. Apa yang saya rasakan setelah mengetahui peran dari seorang Guru Penggerak?

Saya merasa siap menjadi guru penggerak, karena peran-peran guru penggerak sebagian besar sudah ada pada diri saya. 

6. Apa yang bisa saya lakukan (khusus untuk diri saya) untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak?

Saya akan selalu meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri saya agar dapat melakukan peran saya lebih baik. Terutama dalam mewujudkan kepemimpinan murid, dan berkolaborasi dengan guru lain

7. Apa yang akan menghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya?

Rasa malas untuk keluar dari zona nyaman, kekhawatiran akan munculnya banyak kesibukan, serta rasa egois dan mementingkan kepentingan diri sendiri akan menghambat langkah saya dalam memperkuat peran dan nilai guru Penggerak dalam diri saya. 

RUANG KOLABORASI PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK



RUANG KOLABORASI PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK - Pada kegiatan ruang kolaborasi ini Calon Guru Penggerak diminta untuk mengeksplorasi peran dan nilai diri seorang guru penggerak. Kami mengeksplorasi pengalaman yang sesuai dengan peran dan nilai guru penggerak. Kami juga merencanakan strategi penguatan terkait peran dan nilai yang akan calon guru penggerak lakukan di sekolah maupun di komunitasnya

Adapun pengalaman yang pernah dilakukan oleh calon guru penggerak yang sesuai dengan peran guru penggerak adalah:

1. Menjadi pemimpin pembelajaran

  • Seorang guru penggerak harus mau dan mampu merancang atau design pembelajaran menarik, pembelajaran yang tidak monoton dan membosankan. Seperti: pembelajaran dengan model permainan petak umpet, NHT, STAD, picture and picture, pembelajaran dengan alam, alam takambang jadi guru. 
  • Menyusun PTK (Penelitian Tindakan kelas)

Strategi penguatan yang akan dilakukan adalah 
  • Memperkaya pengetahuan tentang permainan-permainan baru yang bisa digunakan dalam pembelajaran
  • Mengikuti webinar,seminar, workshop, dan dll untuk selalu meningkatkan pengetahuan
  • Mengadakan Sharing  session secara rutin dan bergantian
  • Membagikan hasil praktik baik dan berkolaborasi dengan teman sejawat
2. Menggerakkan Komunitas Praktisi
  • Menjadi pengurus MGMP IPS Kabupaten Pati
  • Menjadi pengurus organisasi IPS APEPSI (Asosiasi Pendidik Edukasi IPS Seluruh Indonesia) saya mencoba menggerakkan komunitas dengan mengadakan pembelajaran tiap malam Rabu dan Sabtu bersama komunitas secara online melalui WAG APEPSI Kanal 1-14, sesekali melalui zoom. 
Strategi penguatan yang akan dilakukan
  • Mengajak teman guru di sekolah dan MGMP/KKG untuk mengikuti diklat daring seperti yang diselenggarakan oleh kemdikbud, pusdatin, dan SEAMOLEC
  • Mengikuti komunitas praktis seperti komunitas guru belajar baik yang ada di facebook, Instragam maupun situs resmi pemerintah
  • Setelah mengaplikasikan hasil dari komunitas praktisi tidak lupa melakukan refleksi dari hasil kegiatan ataupun implementasi kegiatan untuk mendapatkan kelebihan dan kekurangan sehingga bisa terus melakukan penyempurnaan.
3. Menjadi Coach Bagi Guru Lain
  • Menjadi mentor pada program guru pembelajar online dan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Di sini saya berperan sebagai fasilitator dalam mendampingi bapak ibu guru yang menjadi sasaran program GPO dan PKB. Bapak ibu guru sasaran belajar secara mandiri secara online dengan pendampingan saya. 
  • Mengadakan IHT khusus untuk meningkatkan kemampuan IT. 
Strategi penguatan yang akan dilakukan
  • Mengidentifikasi kebutuhan dan minat dalam pengembangan diri
  • Melakukan refleksi untuk menentukan prioritas pengembangan diri
  • Menyusun evaluasi diri guru
  • Membuka forum kritik dan saran untuk menemukan kelebihan dan kekurangan
  • Bersedia melayanin kebutuhan guru lain walaupun tidak dalam forum resmi

4. Mendorong Kolaborasi Antarguru
  • Lomba tingkat kecamatan (MAPSI, FLS2N, FLSN, KSN)
  • Peringatan hari besar agama dan hari besar nasional (mauludan, kartinian)
  • Program rutin sekolah (classmeeting, guru induksi bagi guru pemula, supervisi guru, PKKS, akreditasi)
Strategi penguatan yang akan dilakukan

  • Menyusun kepanitiaan di setiap kegiatan rutin sekolah
  • Membuat SK penunjukkan panitia kegiatan
  • Merencanakan pembelajaran berbasis proyek antar mapel 
  • Melakukan evaluasi setelah kegiatan

5. Mewujudkan Kepemimpinan Murid
  • Membantu murid untuk belajar mandiri : bisa diterapkan dalam kegiatan pramuka atau pembelajaran dengan tugas proyek.
  • Memunculkan motivasi murid : untuk memunculkan motivasi murid, saya biasanya menyampaikan storytelling kisah kisah inspiratif yang dapat membangkitkan semangat peserta didik untuk mengasah potensi yang dimiliki.
  • Mendidik karakter peserta didik: karakter peserta didik bisa dengan keteladanan seperti gerakan memungut sampah, gerakan sabtu bersih.
  • Berkaitan dengan kepemimpinan murid pemerintah kabupaten pati memprogramkan latihan kepemimpinan dasar (LDK) kepimpinan siswa SD dan SD kami menjadi salah satu peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
Strategi penguatan yang akan dilakukan
  • Menjadwal imam dalam sholat jamaah dhuha atau sholat dhuhur
  • Pembentukan kelompok belajar dan menunjuk satu anak sebagai ketua kelompok
  • Memberikan otonomi murid untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan
  • Pemanfaatan social media untuk penyampaian visi misi kepemimpinan murid (ketua osis, ketua kegiatan)
  • Pemanfaatan sosial media untuk memperkenalan dan merekam kegiatan siswa 
  • Mengikut sertakan siswa dalam lomba-lomba kepemimpinan
Adapun pengalaman yang pernah dilakukan oleh calon guru penggerak yang sesuai dengan nilai guru penggerak adalah:

1. Mandiri
 
Mampu memunculkan motivasi dalam dirinya sendiri untuk membuat perubahan baik untuk lingkungan sekitarnya ataupun pada dirinya sendiri. Guru penggerak mendorong dirinya untuk meningkatkan kapabilitas dirinya tanpa perlu dorongan dari pihak lain
  • Mempelajari Canva secara mandiri
  • Mengikuti diklat daring secara mandiri
  • Mengikuti program guru penggerak. 
2. Reflektif

Guru Penggerak diajak untuk mengevaluasi kembali pengalaman-pengalaman tersebut, hingga bisa menjadi pembelajaran dan panduan untuk menjalankan perannya di masa mendatang.

  • Pembuatan media diorama siklus air untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siklus air mupel IPA.
  • Merefleksikan kegiatan lomba yang sudah dilaksanakan
3. Kolaboratif

Kolaboratif mampu muncul dalam perilaku seperti kerjasama, berkomunikasi, memahami peran masing-masing pihak dalam suatu situasi tertentu, termasuk memberikan feedback juga merupakan bagian dari kolaborasi
  • Pembentukan paguyuban kelas
  • Kerjasama dengan gugus covid, puskesmas, dan orangtua dalam pelaksanaan ujicoba PTM terbatas
4. Inovatif

Inovatif berarti seorang Guru Penggerak mampu senantiasa memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu ataupun permasalahan tertentu.
  • Pembuatan LMS sederhana untuk pembelajaran dengan menggunakan google site
  • Pembuatan penyulingan air agar dapat mengubah air asin menjadi air tawar melalui proses pemanasan
5. Berpihak pada murid

Guru Penggerak selalu bergerak mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama

  • Melakukan program Remedial dan pengayaan
  • Membuat program guling (guru keliling) agar anak mendapatkan hak untuk belajar selama pandemiDesain pembelajaran yang berpihak dengan murid dengan games (hompimpa, melengkapi huruf, acak kata, TTS, word search)
Untuk mendownload file ppt silakan klik link berikut:



PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK


 

PERAN DAN NILAI GURU PENGGERAK - Dalam usaha mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, tentunya perlu peran pendidik untuk menuntun anak serta menumbuhkan berbagai karakter/nilai yang dijabarkan. Peran pendidik yang pertama dalam terkait dengan Profil Pelajar Pancasila ini adalah mengenali dan menjalankan profil ini terlebih dahulu. Ketika seorang pendidik mencoba menjalankan profil ini, maka akan lebih mudah bagi murid untuk mengikutinya. Keteladanan seorang guru dalam menjalankan ini pastinya akan dilihat dan kemudian dipelajari oleh para murid.

Profil Pelajar Pancasila ini juga tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran tertentu, namun terintegrasi dalam muatan pembelajaran. Ini berarti cakupan materi dan program yang akan diberikan kepada murid untuk dipelajari dalam proses pembelajaran mampu memunculkan aspek-aspek Profil Pelajar Pancasila dalam tiap mata pelajaran. Demi mewujudkan Profil Pelajar Pancasila ini dibutuhkan pendidik yang mumpuni dalam menjadi teladan dan menciptakan perubahan. 

Profil Pelajar Pancasila adalah karakter yang diharapkan muncul pada segenap murid di Indonesia. Keenam karakter tersebut tercerminkan melalui perilaku sehari-hari yang akhirnya menjadi kebiasaan. Untuk mendukung tercapainya karakter ini, setiap guru perlu menanamkan nilai-nilai dan pola pikir sebagai penuntun atau pamong. Nilai-nilai ini bisa berkembang jika seorang guru penggerak mengaktifkan otak luhurnya agar bisa berpikir strategis dan kreatif dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak. 

PERAN GURU PENGGERAK

1. Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong wellbeing ekosistem pendidikan sekolah. Mari kita lihat terlebih dahulu kata pemimpin pembelajaran. Pemimpin Pembelajaran berarti seorang Guru Penggerak menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum,

proses belajar mengajar, asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah, dll. Yang dimaksud dengan wellbeing disini terkait dengan kondisi yang sudah berpihak pada murid. Apakah kondisi tersebut sudah membuat murid nyaman untuk belajar? apakah sudah sesuai dengan kebutuhan murid? Apakah lingkungan belajar di sekolah sudah cukup sejahtera agar anak bisa belajar dengan maksimal? Seorang Guru Penggerak tentunya berperan besar dalam membuat lingkungan sekolah yang nyaman untuk para muridnya. Jadi seorang Guru Penggerak diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan memperhatikan segenap aspek pembelajaran yang mendukung tumbuh-kembang murid.

2. Menggerakkan Komunitas Praktisi

Menggerakkan komunitas praktik untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Seorang Guru Penggerak berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya. Banyaknya praktik baik yang bisa dibagikan dalam komunitas tersebut bisa menjadi bahan pembelajaran untuk para guru sejawat dan tentunya untuk Guru Penggerak tersebut juga. Catatan tambahan, komunitas praktik akan dibahas pada lokakarya.

3. Menjadi Coach Bagi Guru Lain

Menjadi coach dan mentor bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah. Seorang Guru Penggerak juga harus mampu mendeteksi aspek-aspek yang bisa ditingkatkan dari rekan sejawatnya. Seorang Guru Penggerak diharapkan juga mampu merefleksikan hasil pengalamannya sendiri serta guru lain untuk dijadikan poin peningkatan untuk pembelajaran. Tidak lupa juga sebagai seorang coach, Guru Penggerak diharapkan juga bisa memantau perkembangan dari rekan guru lain tersebut.

4. Mendorong Kolaborasi Antar Guru

Membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pada peran ini, seorang Guru Penggerak diharapkan mampu memetakan para pemangku kepentingan di sekolah (serta luar sekolah), serta membangun dialog antar para pemangku kepentingan tersebut.

5. Mewujudkan Kepemimpinan Murid

Mendorong peningkatan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Peran seorang Guru Penggerak berarti membantu para murid ini untuk mandiri dalam belajar, mampu memunculkan motivasi murid untuk belajar, juga mendidik karakter murid di sekolah

NILAI GURU PENGGERAK

1. Mandiri

Mandiri berarti seorang Guru Penggerak  mampu senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya. Segala perubahan yang terjadi di sekitar kita maupun pada diri kita, muncul dari diri kita sendiri. Ketika kita hanya menunggu sesuatu untuk terjadi, seringkali hal tersebut tidak pernah terjadi. Karena itu seorang Guru Penggerak diharapkan mampu mendorong dirinya sendiri untuk melakukan perubahan, untuk memulai sesuatu, untuk mengerjakan sesuatu terkait dengan perubahan apa yang diinginkan untuk terjadi.

Guru Penggerak yang mandiri, berarti guru tersebut mampu memunculkan motivasi dalam dirinya sendiri untuk membuat perubahan baik untuk lingkungan sekitarnya ataupun pada dirinya sendiri. Hal ini terutama perlu muncul dalam aspek pengembangan dirinya. Seorang Guru Penggerak termotivasi untuk mengembangkan dirinya tanpa harus menunggu adanya pelatihan yang ditugaskan oleh sekolah ataupun dinas. Guru Penggerak mendorong dirinya untuk meningkatkan kapabilitas dirinya tanpa perlu dorongan dari pihak lain.

Beberapa poin untuk menguatkan nilai Mandiri pada nilai Guru Penggerak adalah sebagai berikut:

  1. Tentukan tujuan perubahan yang ingin dicapai dan dampak dari pencapaian tujuan tersebut. Apabila ada suatu perubahan yang ingin Anda lihat (baik pada diri Anda, maupun hal di sekitar Anda) mulailah dengan tujuannya terlebih dahulu. Setelah Anda tahu tujuannya, lalu susun rutenya dalam bentuk tujuan yang lebih kecil. contoh: Tujuannya, ingin meningkatkan kemampuan penggunaan perhitungan numerikal di microsoft excel, untuk membantu pekerjaan administrasi menjadi lebih mudah. Dari sini susunlah rute cara belajar Anda, sesuai dengan kapabilitas Anda. Contoh rute: dalam seminggu ini, sudah harus bisa perhitungan dengan menggunakan fungsi numerikal tambah dan kurang. Cara belajar dengan menggunakan youtube misalnya. Dengan penggambaran tujuan dan rute yang jelas kita akan semakin tahu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana mencapai tujuan tersebut. Hal ini yang akan mendorong kita untuk lebih mandiri. 
  2. Rayakan keberhasilan dalam setiap pencapaian. Pencapaian tujuan tidak mudah, bahkan tujuan yang dirasa kecil sekalipun membutuhkan daya, waktu, dll. Apabila kita sudah mencapai tujuan tertentu, rayakan keberhasilan dengan sesuatu yang kita suka. Dengan begitu kita bisa memotivasi diri kita untuk mencapai tujuan selanjutnya.

2. Reflektif

Reflektif berarti seorang Guru Penggerak mampu senantiasa merefleksikan dan memaknai pengalaman yang terjadi di sekelilingnya, baik yang terjadi pada diri sendiri serta pihak lain. Proses perwujudan Profil Pelajar Pancasila, juga perjalanan menjadi Guru Penggerak pastinya akan penuh dengan pengalaman-pengalaman yang bervariasi. Pengalaman-pengalaman ini bisa menimbulkan kesan positif maupun negatif. Dengan mengamalkan nilai reflektif, Guru Penggerak diajak untuk mengevaluasi kembali pengalaman-pengalaman tersebut, hingga bisa menjadi pembelajaran dan panduan untuk menjalankan perannya di masa mendatang. 

Guru Penggerak yang memiliki nilai reflektif mau membuka diri terhadap pengalaman yang baru dilaluinya, lalu melakukan evaluasi terhadap apa saja hal yang sudah baik, serta apa yang perlu dikembangkan. Apa yang dievaluasi tentu saja beragam, bisa terhadap kekuatan dan keterbatasan diri sendiri, pendapat yang dimiliki oleh diri sendiri, proses, dll. Guru Penggerak yang reflektif tidak hanya berhenti sampai berefleksi namun juga sampai melakukan aksi perbaikan yang bisa dilakukan. Mereka juga senantiasa terbuka untuk meminta dan menerima umpan balik dari orang-orang di sekelilingnya.

Model Refleksi 4P
Ada banyak model dalam melakukan refleksi, beberapa di antaranya adalah:

Model refleksi 4P merupakan model pertanyaan yang bisa kita gunakan untuk memaknai pengalaman yang sudah pernah kita rasakan sebelumnya.  Keempat langkah ini merupakan terjemahan dari 4F yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:
  1. Peristiwa (Facts): paparan obyektif berdasarkan pengalaman nyata atas apa yang sejauh ini telah dialami. Contoh pertanyaan: apa kendala yang saya hadapi? apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut? apakah tindakan tersebut berhasil?
  2. Perasaan (Feelings): apa yang dirasakan kini setelah mengikuti proses tersebut. Contoh pertanyaan: Apa yang saya rasakan ketika menghadapi kendala tersebut? ketika saya mencoba mengatasi kendala tersebut bagaimana perasaan saya? 
  3. Pembelajaran (Findings): apa hal paling konkrit yang dapat diambil sebagai pembelajaran dan mungkin telah membawa makna baru. Contoh pertanyaan: apa yang saya pelajari dari proses ini? apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?
  4. Penerapan ke depan (Future): apa hal yang dapat segera diterapkan baik sebagai individu. Contoh pertanyaan: apa yang bisa saya lakukan ke depannya dari pembelajaran di proses ini? pada aspek apa?
Model Refleksi 5M
Model refleksi 5M, yang diadaptasi dari model 5R (Bain, dkk, 2002, dalam Ryan & Ryan, 2013). 5M terdiri dari langkah-langkah berikut:
  1. Mendeskripsikan (Reporting): menceritakan ulang peristiwa yang terjadi
  2. Merespon (Responding): menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, ataupun tindakan yang diambil saat peristiwa berlangsung.
  3. Mengaitkan (Relating): menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengetahuan, keterampilan, keyakinan atau informasi lain yang dimiliki.
  4. Menganalisis (Reasoning): menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, lalu  mengambil beberapa perspektif lain, misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupa, untuk mendukung analisis tersebut.
  5. Merancang ulang (Reconstructing): menuliskan rencana alternatif jika menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.
3. Kolaboratif
Kolaboratif berarti seorang Guru Penggerak mampu senantiasa membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah (contoh: orang tua murid dan komunitas terkait) dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, seorang Guru Penggerak akan bertemu banyak sekali pihak yang mampu mendukung pencapaian Profil Pelajar Pancasila. Guru Penggerak diharapkan mampu merangkul semua pihak itu.

Guru Penggerak yang menjiwai nilai kolaboratif mampu membangun rasa kepercayaan dan rasa hormat antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya, serta mengakui dan mengelola perbedaan peran yang diemban oleh masing-masing tiap pemangku kepentingan sekolah dalam mencapai tujuan bersama.  

Perlu diperhatikan, kolaboratif mampu muncul dalam perilaku seperti kerjasama, berkomunikasi, memahami peran masing-masing pihak dalam suatu situasi tertentu, termasuk memberikan feedback juga merupakan bagian dari kolaborasi.

4. Inovatif
Inovatif berarti seorang Guru Penggerak mampu senantiasa memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu ataupun permasalahan tertentu. Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, masalah yang muncul pun juga semakin bervariasi. Untuk bisa mengatasi beragam masalah tersebut, diperlukan lah jiwa inovatif dari seorang Guru Penggerak, agar bisa datang dengan penyelesaian masalah yang mungkin tidak biasa namun tepat guna. Seorang Guru Penggerak yang mempunyai nilai inovatif ini, mampu menggunakan nilai reflektifnya dalam mengevaluasi sebuah proses ataupun masalah, dan mencari gagasan-gagasan lainnya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dibutuhkan kejelian dari seorang Guru Penggerak untuk melihat peluang/potensi yang ada di sekitarnya (baik dari guru lain, murid, kepala sekolah, orang tua murid, komunitas lainnya) untuk mendukung ide orisinal demi menguatkan pembelajaran murid.

Nilai inovatif ini juga mendukung keterbukaan para Guru Penggerak terhadap gagasan serta ide lain yang muncul dari luar dirinya untuk memecahkan masalah, mencari informasi lain yang bisa mendukung prosesnya, sudut pandang orang lain yang bisa membantu dirinya dalam menemukan inspirasi pemecahan masalah ataupun mengambil keputusan, hingga pada akhirnya melakukan solusi/aksi nyata untuk mengatasi permasalahan.

5. Berpihak pada Murid
Berpihak pada murid disini berarti seorang Guru Penggerak selalu bergerak dengan mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama. Segala keputusan yang diambil oleh seorang Guru Penggerak didasari pembelajaran murid terlebih dahulu, bukan dirinya sendiri. Segala hal yang kita lakukan, harus tertuju pada perkembangan murid, bukan pada pemuasan diri kita sendiri, maupun orang lain yang berkepentingan. Sebagai Guru Penggerak yang memiliki nilai ini, kita selalu harus mulai berpikir dari pertanyaan “apa yang murid butuhkan?”, “apa yang bisa saya lakukan untuk membuat proses belajar ini lebih baik?” dll.

          Yang perlu seorang Guru Penggerak ingat, bahwa ini adalah nilai yang utama dan penting. Pada modul 1.1 kita sudah bahas bahwa filosofi utama dari Ki Hadjar Dewantara menekankan pada pemusatan orientasi pendidikan pada murid. Sebagai Guru Penggerak, mengutamakan keberpihakan pada murid adalah pedoman perilaku yang utama.


Sumber : Modul 1.2 Peran dan Nilai Guru Penggerak, Pendidikan Guru Penggerak

PROFIL PELAJAR PANCASILA

 PROFIL PELAJAR PANCASILA - Pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dinilai masih relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan saat ini. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Semangat agar anak bisa bebas belajar, berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan berdasarkan kesusilaan manusia ini yang akhirnya menjadi tema besar kebijakan pendidikan Indonesia saat ini, Merdeka Belajar.

Semangat Merdeka Belajar yang sedang dicanangkan ini juga memperkuat tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dimana Pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Kedua semangat ini yang kemudian memunculkan sebuah pedoman, sebuah penunjuk arah yang konsisten, dalam pendidikan di Indonesia. Pedoman tersebut adalah Profil Pelajar Pancasila (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020)

Profil Pelajar Pancasila ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia. Tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik, dalam membangun karakter anak di ruang belajar yang lebih kecil. Pelajar Pancasila disini berarti pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Keenam dimensi ini perlu dilihat sebagai satu buah kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka profil ini akan menjadi tidak bermakna. Sebagai contoh: ketika seorang pelajar perlu mengeluarkan ide yang baru dan orisinil untuk memecahkan masalah, diperlukan juga kemampuan bernalar kritis untuk melihat permasalahan yang ada. Solusi yang dihasilkan juga perlu mempertimbangkan akhlak kepada makhluk hidup lain yang dapat dimunculkan dari dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Dalam mewujudkan solusinya, ia pun perlu melibatkan orang lain dengan tetap menghargai keragaman latar belakang yang dimiliki (dimensi Gotong Royong dan Berkebinekaan Global). Untuk lebih jelasnya, berikut adalah sekilas penjelasan mengenai Profil Pelajar Pancasila ini.



1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.

Murid dengan dimensi profil ini berarti murid tersebut mengamalkan nilai-nilai agama dan kepercayaannya sebagai bentuk religiusitasnya, percaya dan menghayati keberadaan Tuhan serta memperdalam ajaran agamanya yang tercermin dalam perilakunya sehari-hari sebagai bentuk penerapan pemahaman terhadap ajaran agamanya. Dalam usahanya memperkuat iman dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, murid dengan profil ini juga menghargai segala bentuk ciptaan Nya, baik itu alam tempat ia tinggal, manusia lain, dan yang juga tidak boleh dilupakan, dirinya sendiri. Dengan menghargai hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dirinya sendiri, orang lain, serta alam, maka seorang murid dapat memenuhi dimensi ini.

Berikut beberapa elemen dan sub elemen dari dimensi Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.

● Akhlak Beragama.

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu ataupun memiliki:

- Mengenal dan mencintai Tuhan Yang Maha Esa

- Pemahaman agama/kepercayaan

- Pelaksanaan ajaran agama/kepercayaan

● Akhlak Pribadi.

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu menunjukkan ataupun memiliki:

- Integritas (sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dalam relasi dengan orang lain)

- Merawat diri secara fisik, mental, dan spiritual

● Akhlak kepada manusia

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu menunjukkan:

- Mengutamakan persamaan dengan orang lain dan menghargai perbedaan

- Berempati kepada orang lain

● Akhlak kepada Alam

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu menunjukkan:

- Menjaga lingkungan

- Memahami keterhubungan ekosistem bumi

● Akhlak bernegara

Dalam elemen ini seorang murid mampu menunjukkan:

- melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga negara

2) Berkebinekaan Global

Murid dengan dimensi profil ini merupakan seorang murid yang berbudaya, memiliki identitas diri yang matang, mampu menunjukkan dirinya sebagai representasi budaya luhur bangsanya, serta terbuka terhadap keberagaman budaya daerah, nasional, global. Hal ini dapat diwujudkan dengan kemampuan berinteraksi secara positif antar sesama, memiliki kemampuan komunikasi interkultural, serta mampu memaknai pengalamannya di lingkungan majemuk sebagai kesempatan pegembangan dirinya.

Berikut beberapa elemen dan sub elemen dari dimensi Berkebinekaan Global:

● Mengenal dan menghargai budaya

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu:

- Mendalami budaya dan identitas budaya

- Mengeksplorasi dan membandingkan pengetahuan budaya, kepercayaan, serta praktiknya

- Menumbuhkan rasa menghormati terhadap keanekaragaman budaya

● Komunikasi dan interaksi antar budaya

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu menunjukkan:

- Berkomunikasi antar budaya

- Mempertimbangkan dan menumbuhkan berbagai perspektif

● Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu menunjukkan:

- Melakukan refleksi terhadap pengalaman kebinekaan

- Menghilangkan stereotip dan prasangka

- Menyelaraskan perbedaan budaya

● Berkeadilan Sosial.

Dalam elemen ini seorang murid mampu:

- Turut serta aktif, membangun masyarakat yang adil, inklusif dan berkelanjutan

- Berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan bersama

- Memahami peran individu dalam demokrasi

3) Gotong Royong

Seorang murid yang memiliki dimensi Gotong Royong berarti murid tersebut mampu berkolaborasi dengan orang lain dan secara proaktif mengupayakan pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang yang ada dalam masyarakatnya. Murid tersebut juga sadar bahwa Ia tidak hidup sendiri, memiliki kesadaran diri sebagai bagian dari kelompok, sehingga perlu ada usaha dari dirinya untuk membantu pencapaian kebahagiaan kelompoknya.

Berikut beberapa elemen dan sub elemen dari dimensi Gotong Royong:

● Kolaborasi

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu menunjukkan:

- Kerjasama

- Berkomunikasi untuk mencapai tujuan bersama

- Menumbuhkan rasa saling ketergantungan positif (menyadari peran dirinya dan peran orang lain dalam kontribusinya dalam pencapaian tujuan kelompok)

- Koordinasi Sosial (melakukan koordinasi demi pencapaian tujuan bersama)

● Kepedulian

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu menunjukkan atau memiliki:

- Tanggap terhadap lingkungan

- Persepsi sosial (memahami dan menghargai lingkungan sosialnya, untuk memunculkan situasi yang sejalan dengan kesejahteraan lingkungan sosialnya)

● Berbagi (memberi dan menerima segala hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan bersama)

4) Mandiri

Seorang murid yang memiliki dimensi mandiri berarti murid tersebut mempunyai prakarsa atas pengembangan diri dan prestasinya dan didasari pada pengenalan kekuatan serta keterbatasan dirinya serta situasi yang dihadapi, dan bertanggung jawab atas proses dan hasilnya. Murid yang memiliki dimensi ini juga mampu mengelola dirinya sendiri (pikiran, perasaan, tindakan) untuk mencapai tujuan pribadinya ataupun tujuan bersama.

Berikut beberapa elemen dan sub elemen dari dimensi Mandiri:

● Pemahaman diri dan situasi

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu:

- Mengenali kualitas dan minat diri serta tantangan yang dihadapi

- Mengembangkan refleksi diri

● Regulasi Diri

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu:

- Regulasi Emosi

- Menetapkan tujuan dan rencana strategis pengembangan diri dan prestasi

- Memiliki inisiatif bekerja secara mandiri

- Mengembangkan kendali dan disiplin diri

- Percaya diri, resilien dan adaptif

5) Bernalar Kritis

Seorang murid yang memiliki dimensi Bernalar Kritis berarti murid tersebut mampu menggunakan kemampuan nalar dirinya untuk memproses informasi, mengevaluasinya, hingga menghasilkan keputusan yang tepat untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya. Murid tersebut mampu menyaring informasi, mengolahnya, mencari keterkaitan berbagai informasi, menganalisa serta membuat kesimpulan berdasarkan informasi tersebut. Dimensi ini juga berarti keterbukaan terhadap berbagai macam perspektif ataupun pembuktian baru (termasuk pada pendapatnya semula yang digugurkan oleh pembuktian baru ini). Keterbukaan ini pun mampu bermanfaat dalam kehidupan murid di masa mendatang karena menumbuhkan murid yang terbuka, mau mengubah pendapatnya, serta menghargai pendapat orang lain.

Berikut beberapa elemen dan sub elemen dari dimensi Bernalar Kritis:

● Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan

Dalam elemen ini berarti seorang murid mampu:

- Mengajukan pertanyaan (untuk mengumpulkan data yang akurat)

- Mengidentifikasi, mengklarifikasi dan mengolah informasi dan gagasan

● Menganalisa dan mengevaluasi penalaran

● Merefleksi dan mengevaluasi pemikirannya sendiri

6) Kreatif

Seorang murid yang memiliki dimensi kreatif berarti mampu memodifikasi, menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak untuk mengatasi berbagai persoalan baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk lingkungan di sekitarnya.

Berikut beberapa elemen dan sub elemen dari dimensi Kreatif:

● Menghasilkan gagasan yang orisinal

● Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal

● Memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan

Dalam usaha mewujudkan Profil Pelajar Pancasila ini, tentunya perlu peran pendidik untuk menuntun anak serta menumbuhkan berbagai karakter/nilai yang dijabarkan. Peran pendidik yang pertama dalam terkait dengan Profil Pelajar Pancasila ini adalah mengenali dan menjalankan profil ini terlebih dahulu. Ketika seorang pendidik mencoba menjalankan profil ini, maka akan lebih mudah bagi murid untuk mengikutinya. Keteladanan seorang guru dalam menjalankan ini pastinya akan dilihat dan kemudian dipelajari oleh para murid.

Profil Pelajar Pancasila ini juga tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran tertentu, namun terintegrasi dalam muatan pembelajaran. Ini berarti cakupan materi dan program yang akan diberikan kepada murid untuk dipelajari dalam proses pembelajaran mampu memunculkan aspek-aspek Profil Pelajar Pancasila dalam tiap mata pelajaran. Demi mewujudkan Profil Pelajar Pancasila ini dibutuhkan pendidik yang mumpuni dalam menjadi teladan dan menciptakan perubahan. 

Sumber : Modul 1.2 Profil Pelajar Pancasila Pendidikan Guru Penggerak


Monday, 1 November 2021

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara



Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara - Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan sungguh sangat bermanfaat untuk pendidikan di masa kini dan mendatang. Ki Hajar Dewantara menyampaikan beberapa pemikiran terkait pendidikan dan pengajaran ini. 

Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”

Pada postingan kali ini saya akan mereview dan merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui beberapa pertanyaan berikut

  1. Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?

Sebelum mempelajari modul 1.1 ada beberapa anggapan saya terhadap pendidikan dan murid saya di kelas. Anggapan-anggapan tersebut adalah 

  • Saya menganggap murid itu ibarat kertas kosong, tidak ada coretan apapun, jadi orang tua atau guru bisa memberi coretan sesuai dengan keinginan orangtua atau guru. Saya percaya dengan teori John Locke tentang Tabularasa, bahwa murid itu membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya. Anak dipandang tidak memiliki apa-apa saat mereka lahir, tanpa bekal kecerdasan, kemampuan dan lainnya, dianggap benar-benar kosong dan tidak berdaya. Bagi orang-orang yang menggunakan teori ini dalam pendidikan anak usia dini, maka anak usia dini dianggap tidak memiliki kekuatan lebih dalam proses perkembangannya dan orang dewasa bersifat absolut sebagai subjek pembentuk dalam membantu proses perkembangan pada anak usia dini tersebut.
  • Seorang guru hanya cukup mentansfer ilmu saja, tidak ada kewajiban bagi guru untuk mengubah karakter anak agar menjadi lebih baik. Karakter anak hanyalah perlu dikembangkan oleh keluarga dan masyarakat. 
  • Untuk mencapai target tuntasnya sebuah pembelajaran maka guru biasanya melaksanakan pembelajaran dengan teacher centered atau pendidikan berpusat pada guru. Guru tidak memperhatikan seberapa besar kebutuhan anak untuk aktualisasi dirinya. Anak juga membutuhkan pengembangan dirinya agar karakter anak bisa terasah sejak dini. 

  1. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini? 

Ada beberapa hal yang berubah setelah mempelajari modul 1.1 diantaranya:

  • Saya memahami bahwa anak lahir itu bukan tabularasa. Anak lahir sudah memiliki kodratnya sendiri-sendiri. Ibarat sebuar kertas, maka anak lahir seperti kertas yang sudah terisi tulisan yang masih samar. Kita seorang guru hanya bisa menebalkan tulisan samar tadi agar menjadi lebih jelas. Ki Hajar Dewantara berkeyakinan bahwa anak lahir sudah membawa karakternya masing-masing. Kita sebagai orangtua dan guru hanya bisa menuntun lakunya, menebalkan lakunya dengan cara memberi pendidikan yang baik, memberi contoh yang baik, agar karakter anak sudah tertulis sejak lahir bisa terlihat dan membawa keselamatan dan kebahagiaan
  • Seorang guru tidak hanya mentransfer pengentahuan saja kepada anak. Namun lebih dari itu menumbuhkan karakter anak justru menjadi yang utama. Apalah gunanya anak yang memiliki kepandaian yang baik namun tidak disertai akhlak yang kurang baik 
  • Target pencapaian kurikulum itu penting, namun akan lebih penting jika karakter anak sesuai cerminan profil pelajar pancasila itu juga dapat tercapai. Salah satu cara untuk mencapai karakter anak yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila maka seorang guru harus bisa menghamba pada anak. Menghamba di sini adalah melayani anak dengan sepenuh hati, memberikan yang terbaik untuk anak agar anak dapat mengembangkan kodratnya. Pendidikan harus berpihak kepada anak. Segala yang kita berikan dan kita lakukan hendaknya demi kebaikan si anak. Dalam pembelajaran di kelas harus student centered atau berpusat pada murid. Biarkan murid melakukan kebebasannya dalam belajar. Merdekakan murid dalam belajarnya. Membiasakan murid belajar sesuai minatnya. Guru cukup menjadi fasilitator bukan satu-satunya sumber belajar. Ajak anak untuk belajar dengan alam, dengan lingkungan, dengan masyarakat.

  1. Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?  

Untuk mencapai kemerdekaan belajar dan menjadikan anak memiliki karakter yang tercermin sesuai dengan profil pelajar pancasila, maka saya kan menerapkan beberapa hal, diantaranya:

  • Membiasakan budaya 5S kepada guru dan warga sekolah lain ketika bertemu di luar maupun di dalam kelas untuk menumbuhkan karakter beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. 
  • Membiasakan budaya teposeliro atau sikap toleransi kepada sesama mengenal budaya negri sendiri melalui kegiatan-kegiatan multi kurtural seperti melaksanakan pembelajaran dengan model gamifikasi melalui permainan tradisional guna menumbuhkan sikap kebinekaan global
  • Menerapkan pembelajaran berbasis proyek, yaitu berupa pemanfaatan sampah dedaunan yang akan dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Dalam pelaksanaannya siswa anak saya ajak untuk secara berkelompok sesuai dengan kelasnya untuk mengumpulkan sampah dedaunan sebanyak mungkin dan diubah menjadi pupuk kompos. Hasilnya bisa digunakan untuk pupuk tanaman sayur yang ditanam di kebun sekolah atau untuk memupuk tanaman hias yang di tanam di taman sekolah guna menumbuhkan keterampilan bernalar kritis. kreatif, dan gotong royong
  • Meminta anak untuk memilih tugas sesuai dengan minat dan kemampuannya, membiasakan anak untuk bertanggung jawab terhadap tugasnya, agar anak memiliki karakter mandiri. 
  • Menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tuladha saat kita menjadi pemimpin pembelajaran dengan cara memberikan contoh yang baik, menjadi suri tauladan bagi anak dan teman sejawat. Ing Madya Mangun Karsa, memberi semangat dan inspirasi bagi teman sejawat juga lingkungan masyarakat. Tut Wuri Handayani, memberi dorongan dan motivasi ketika kita sedang berlaku sebagai bawahan atau rakyat biasa. 
Demikianlah pembelajaran yang saya dapat dari pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara pada Modul 1.1. Kurang dan lebihnya para pembaca berkenan memberi masukan memalui kolom komentar

 

 

Monday, 5 April 2021

Perkembangan Kehidupan Masa Praaksara



Periodisasi ini didasarkan atas perkembangan kehidupan manusia praaksara. Berdasarkan hal tersebut, maka masa praaksara dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, serta masa perundagian. Bagaimana perkembangan manusia pada masa-masa tersebut? Bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan hidup? Bagaimana hubungan antar mereka dalam membentuk kelompok?

Berdasarkan ciri kehidupan masyarakat zaman praaksara di Indonesia dibagi menjadi empat tahap yaitu:

1) Masa Berburu dan Meramu Tingkat Awal

Masa berburu dan meramu tingkat sederhana terjadi pada masa Palaeolithicum. Masa berburu artinya mencari binatang, seperti: lembu, kijang, sapi, gajah, banteng, dan kerbau liar. Meramu artinya mengumpulkan makanan dari hasil hutan berupa, daun-daunan, sayur-sayuran, buah-buahan, dan ubi-ubian seperti: ubi talas, ubi jalar dan keladi. Manusia pendukungnya adalah jenis Pithecanthropus, Megantropus Palaeojavanicus, Homosoloensis dan Homo Wajakensis. 


Masa berburu dan meramu tingkat awal ditandai dengan ciri-ciri kehidupan masyarakatnya sebagai berikut: 

  1. Hidupnya berpindah-pindah (nomanden); 
  2. mengenal kebutuhan berkelompok dan hubungan antar kelompok sangat erat; 
  3. memiliki  pemimpin  yang  dihormati  dan ditaati; 
  4. mengenal pembagian kerja, yaitu: laki-laki bertugas untuk berburu binatang, sedangkan wanita mengumpulkan makanan dari hasil hutan dan mengurus anak.
Kehidupan ekonomi masyarakat berburu dan meramu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kebutuhan makanan masih tergantung pada alam;
  2. Kebutuhan   akan  makanan dipenuhi dengan cara berburu  binatang  dan  mengumpulkan makanan;
  3. Tempat tinggalnya dekat dengan sungai, dan gua-gua (Abrish Soush Roche). 

Pada masa berburu dan meramu peralatan yang digunakan yaitu: kebudayaan pacitan, dan kebudayaan ngandong. 

Kebudayaan Pacitan peralatannya meliputi: (1) kapak perimbas, yang digunakan untuk merimbas kayu, menguliti binatang, dan memecah tulang; (2) kapak genggam, digunakan untuk menggali ubi dan memotong daging buruan; dan (3) alat serpih/flakes, seperti: gurdi/linggis (membuat lubang), pisau (memotong), dan tombak untuk berburu. Alat-alat tersebut banyak ditemukan di Pacitan (Jawa Timur). Gombong (Jawa Tengah), Lahat, Kalianda (Sumatra) dan Cibenge (Sulawesi).


Kebudayaan ngandong peralatannya berupa: tulang tanduk, dan duri ikan, dengan bentuk blake/alat serut; gurdi, pisau dan alat penusuk.

2)  Masa Berburu dan Meramu Tingkat Lanjut


Pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut, terjadi pada masa Mesolithikum. Masa berburu dan meramu ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:


  1. Hidupnya mulai semi sendenter (menetap sementara digua-gua); 
  2. Kehidupan masyarakatnya bermukim dan berladang (huma). 
  3. Mengenal gotong-royong 
  4. Mampu menyimpan sisa makanan; 
  5. Mengenal cara penguburan mayat 
  6. Mengenal religi/ kepercayaan    
  7. Mengenal kesenian

Alat yang dipergunakan pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut yaitu: kebudayaan pedalaman (Abrish Sous Roche) dan kebudayaan pantai (Kjokken Moddinger).  Kebudayaan Abrish Sous Roche yang berupa: serpih bilah yang meliputi: pisau, gurdi, dan batu serta alat-alat dari tulang, antara lain: belati, sudip dan penetak. Kebudayaan Pantai (Kjokken Moddinger) berupa, kapak genggam, kapak pendek/peble, batu pipisan/batu giling yang digunakan untuk menggiling obat/jamu.                

3) Masa Bercocok Tanam

Masa bercocok tanam dikenal dengan istilah food producing Masyarakat pendukungnya adalah manusia jenis Homo Sapien (manusia cerdik). Sistem bercocok tanam atau dikenal dengan sistem persawahan  dapat menggunakan lahan yang terbatas dan kesuburan tanahnya dapat dijaga melalui pengolahan tanah, irigasi dan pemupukan. Jenis tanaman yang ditanam adalah: padi-padian/biji-bijian, sukun dan pisang. Selain bercocok tanam masyarakat juga sudah mulai beternak. Hewan yang diternak antara lain: kerbau, sapi, kuda, dan unggas. Hewan ternak selain untuk dikonsumsi dagingnya juga digunakan untuk keperluan pengerjaan sawah dan ladang serta untuk alat transportasi.

a) Kehidupan Sosial 

Kehidupan sosial masa bercocok tanam ditandai dengan ciri-ciri antara lain: .

  1. Masyarakat sudah hidup menetap (sendenter) di rumah-rumah panggung. Rumah tersebut dibangun dengan tujuan untuk: menghindari bahaya banjir, serangan binatang buas, dan menghindari serangan musuh.
  2. Komunikasi anggota kelompok sangat erat
  3. Berkembang sistem gotong-royong
  4. Terbentuk semacam pradesa yang dikepalai oleh gramadesa.
  5. Memiliki pemimpin (kepala suku) yang dipilih melalui musyawarah. Pemilihan pemimpin berdasarkan prinsip primus inter pares menandakan bahwa pemimpin tersebut dipilih diantara mereka yang memiliki kelebihan baik fisik (kuat) maupun spiritual (keahlian).

b) Kehidupan ekonomi

Kehidupan ekonomi masyarakat pada masa bercocok tanam, ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut: 
  1. Kehidupan bercocok tanam di persawahan; 
  2. Kehidupan mulai menetap; 
  3. Mengenal sistem perdagangan yang dikenal dengan istilah Barter/tukar menukar barang.

c) Kehidupan Budaya

Pada masa bercocok tanam, manusia semakin mahir membuat berbagai alat-alat atau perkakas. Alat-alat yang dihasilkan sudah dibuat halus dan fungsinya beraneka ragam yaitu: untuk kegiatan sehari-hari, perhiasan, dan alat upacara keagamaan. 

Perkakas yang dihasilkan antara lain: (1) Kapak Persegi digunakan mengerjakan kayu, menggarap tanah dan alat upacara keagamaan; (2) Kapak Lonjong digunakan sebagai cangkul untuk menggarap tanah dan sebagai kapak biasa; (3) Gerabah; (4) Alat pemukul kulit kayu digunakan untuk memukul-mukul kulit kayu hingga halus; (5) Perhiasan berupa gelang dari batu dan kulit kerang.

d) Kehidupan religi/kepercayaan

Masyarakat pada masa bercocok tanam sudah mengenal kehidupan religi kepercayaan yang berkembang pada masa ini yaitu: animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap roh dan Dina-misme adalah kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan gaib. Dasar dari kepercayaan aninisme dan dinamisme terlihat adanya tradisi megalith. Seperti: menhir, dolmen, sarcopagus, waruga, dan punden berundak-undak.

4) Masa Perundagian

Masa perundagian sangat penting artinya dalam perkembangan sejarah Indonesia. Kata perundagian berasal dari bahasa Bali: undagi, yang artinya adalah seseorang atau sekelompok orang atau segolongan orang yang mempunyai kepandaian atau keterampilan jenis usaha tertentu, misalnya pembuatan gerabah, pembuatan perhiasan, atau pembuatan sampan. Pada masa perundandagian, Indonesia kedatangan bangsa Melayu Austronesia dari Yunan. Mereka membawa kebudayaan logam dari Dongson. Oleh karena itu, sering disebut kebudayaan Dongson.

a) Kehidupan sosial

Kehidupan sosial masyarakat pada masa perundagian, ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Sistem gotong royong, sangat menonjol;
  2. Sudah terbentuk desa besar (gabungan beberapa desa)
  3. Mengenali ilmu pengetahuan, seperti: ilmu perbintangan, arah angin, dan pranata mangsa.
  4. Masyarakat tersusun atas kelompok petani, pedagang, dan undagi (pengrajin/tukang)
  5. Ada pengembangan norma-norma kepemimpinan yaitu: ada yang memimpin dan dipimpin.

b) Kehidupan ekonomi

Kehidupan ekonomi masa perundagian sudah maju. Masyarakat hidup menetap dan bercocok tanam. Pertanian ditunjang oleh perkembangan teknik pembuatan alat kerja, antara lain: bajak, cangkul, sabit, dan telah mengenal teknik persawahan. Kehidupan ekonomi tertumpu pada pertanian, pertukangan dan perdagangan (barter). 
Kehidupan ekonomi masyarakat perundagian ciri-cirinya, sebagai berikut: 
  1. Mata pencaharian masyarakat bercocok tanam dengan didukung alat-alat dari logam, seperti cangkul, sabit, mata bajak; 
  2. Perdagangan antar pulau sudah maju; 
  3. Peternakan berkembang maju, hewan yang diternak adalah kuda dan unggas.

c) Kehidupan Budaya

Pada masa perundagian kehidupan budaya masyarakat berkembang lebih maju. Pada masa ini, masyarakat menciptakan berbagai peralatan baik dari batu, kayu, tulang, terutama logam. Peralatan dari logam digunakan untuk bertani, bertukang, peralatan rumah tangga, perhiasan dan perlengkapan upacara serta pemujaan. Peralatan dari logam antara lain: nekara, moko, kapak corong, bejana perunggu, candrasa, dan berbagai perhiasan. Teknik pembuatan peralatan dari logam dilaksanakan dengan cara, yaitu:  Teknik Bivalve (setangkup), a cire perdue (cetak lilin), tempa, dan pengecoran logam.
 

d) Kehidupan Religi/Kepercayaan

Pada masa perundagian masyarakat sudah mengenal kepercayaan yaitu: animisme dan dinamisme. Animisme percaya kepada arwah nenek moyang/roh-roh halus. Dinamisme yaitu: percaya kepada benda-benda memiliki kekuatan gaib, seperti: Nekara dapat mendatangkan hujan ketika ditabuh.